Scrum dan Perubahan, apa hubungannya?

Kita tentu cukup sering mendengar (atau membaca) hal tentang “perubahan”. Banyak yg menginginkan perubahan baik itu untuk diri sendiri maupun organisasi atau lingkungan kerja. Ada juga orang yang anti perubahan, senang berada di zona nyaman dan status quo karena melakukan perubahan itu sendiri tidak mudah apalagi menyangkut banyak orang.

Kenapa perlu perubahan kalau kondisi sekarang masih baik-baik saja?

Image result for time for change

Source: blogs.psychcentral.com

Kita coba kilas balik beberapa tahun kebelakang lalu bandingkan dengan hari ini, seberapa besar perubahan yang terjadi. Kita perhatikan berbagai aspek seperti: teknologi, ekonomi, bisnis, isu politik, kebiasaan masyarakat berubah sangat cepat dari tahun ke tahun. Apapun profesi kita, apapun jenis usaha atau pekerjaan yang dilakukan akan dituntut untuk beradaptasi dengan perubahan itu sendiri. Karna jika tidak, anda tidak akan bisa bersaing dan mungkin tergerus oleh jaman.”Adaptasi” adalah salah satu dari tiga pilar dalam Scrum (Transparansi-Inspeksi-Adaptasi).

 

 

 

Dalam Scrum Guide memang tidak disebutkan secara eksplisit tentang perubahan. Namun adaptasi terhadap cepatnya perubahan yang terjadi maka berarti Scrum mendukung perubahan, perubahan kearah yang lebih baik tentunya. Perubahan memang memerlukan proses dan waktu yang tidak sebentar, apalagi merubah kultur dalam organisasi.

 

Selama saya mengadopsi Scrum di tim, banyak sekali perubahan yang dirasakan dibanding dengan cara manajemen tradisional. Perubahan kultur dan cara kerja berpengaruh baik pada efektifitas kerja sehingga tim lebih produktif.

Tapi, Scrum dulu atau merubah kultur dulu?

Source: http://www.jeffmarmins.com

Masih beredar di masyarakat kalau ingin menjalankan Scrum, tim nya harus ‘dewasa’ dulu bahkan banyak yg menganggap tim nya harus punya skill yang jago dan berpengalaman, bukan newbie. Kalau kita merujuk ke Scrum Guide, modal yang diperlukan untuk masing-masing individu dalam tim adalah Nilai-nilai Scrum (Komitmen, Fokus, Keberanian, Keterbukaan, Menghargai) bukan soal kemampuan teknis. Namun bagi saya tidak menutup kemungkinan kita mengadopsi Scrum pada tim yang belum bisa menerapkan nilai-nilai Scrum, misalnya: masih banyak yg belum berani mengemukakan ide, tidak terbuka terhadap masalah yg dihadapi, dsb. Scrum justru akan membantu memfasilitasi tim untuk berkembang menjadi lebih ‘dewasa’ dan tim akan belajar menerapkan nilai-nilai Scrum itu sendiri.

Dengan demikian, Scrum sebenarnya bukan ‘tool’ yang hanya bisa dipake orang-orang yang jago. Scrum tidak sebatas framework untuk mengembangkan produk, tapi juga membangun tim dan kultur kerja yang efektif. Kalau masih ada yang beranggapan ubah kultur dulu baru terapkan Scrum, pertanyaan saya bagaimana proses merubah kultur itu? Seberapa efektif? Dan Kenapa tidak kita coba adopsi Scrum dalam proses merubah kultur tersebut? Kita harus berani men”challenge” lingkaran sebab-akibat itu. Namun ini bukan berarti kita tidak perlu merubah apapun sebelum adopsi Scrum. Ada hal dasar yang harus diubah (diluruskan) dulu sebelum adopsi Scrum yaitu “Mindset”.

Kita sudah jalankan Scrum bertahun-tahun tapi tetap aja tidak ada yang berubah, Apa penyebabnya?

Image result for why we need to change

Source: www.inet.ox.ac.uk

Pertanyaan ini mungkin harusnya terjawab oleh tim di Sprint Retrospective. Berdasarkan pengalaman beberapa teman yang pernah share di meetup komunitas, hal ini terjadi salah satu faktornya adalah ketidaksesuaian “mindset”. Ketidaksesuaian mindset dari para pimpinan dan manajer tentang orang-orang dalam organisasi dan mindset tentang produk /proyek. Orang-orang masih dianggap sebagai ‘resource’ yang digunakan untuk mengerjakan semua pekerjaan berdasarkan instruksi atasan saja. Mereka tidak diberi kepercayaan bahkan tidak diberi kesempatan untuk belajar dan me-manage diri sendiri. Padahal posisi mereka sebagai “creator” dari produk yg dikembangkan. Akhirnya produk yang dihasilkan kualitasnya rendah bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumen.

 

Disisi lain, kualitas yang sengaja diabaikan agar mencapai ‘deadline’ dari proyek juga permasalahan yang berawal dari ‘mindset’ yang keliru tentang produk. Akhirnya produk hanya dijadikan barang formalitas sebagai syarat tercapainya proyek, “yang penting jalan dulu deh”. Orang-orang dipaksa lembur dan dilarang melakukan ‘improvement’ karena bisa menghabiskan waktu proyek berjalan. Ada gap antara para manajer yang ingin proyek selesai tepat waktu dengan karyawan yang ingin membuat produk berkualitas. Karena integritas dan profesionalitas para karyawan terletak pada kualitas produk yang mereka hasilkan. Karyawan yang sudah profesional tentu tidak akan betah di lingkungan kerja seperti itu. Tak sedikit perusahaan kehilangan orang-orang terbaiknya hingga akhirnya turnover sangat tinggi.Quotes 5.jpg

Melihat kondisi tersebut jangankan mengharapkan kesuksesan adopsi Scrum, keberlangsungan organisasi dan bisnis pun perlu jadi perhatian. Dan itu diawali dengan meluruskan ‘mindset’ dulu, menentukan visi dan misi yang jelas. Baru menentukan langkah yang akan dijalankan bersama-sama melibatkan semua orang yang ada serta saling terbuka terhadap ide gagasan satu sama lain baru jalankan Scrum dengan fun.

Apakah anda adalah salah satu yang tergerak untuk membawa perubahan di lingkungan kerja anda?

Scrum Day Bandung adalah momen yang tepat bagi anda, rekan kerja anda atau atasan anda untuk mencari inspirasi dari para change agent dan leader yang sudah sukses membawa dampak serta perubahan menciptakan lingkungan kerja yang ideal. Mereka adalah para profesional yang akan berbagi perjalanan mereka sesuai dengan bidangnya.
Anda juga bisa berkonsultasi lebih dalam tentang Scrum bukan sebatas mekanik namun bagaimana Scrum bisa berdampak bagi lingkungan kerja, bagi orang-orang dan bagi produk yang anda kembangkan.
Sampai berjumpa di Scrum Day Bandung 2018 🙂

Leave a Reply