Scrum (tidak) hanya untuk pengembangan perangkat lunak

Seperti kita ketahui bersama, kerangka kerja yang bernama Scrum sangat populer pada dunia pengembangan perangkat lunak. Hal tersebut ditunjukkan melalui hasil survey VerisonOne beberapa tahun lalu. Akan tetapi apakah anda tahu bahwa Scrum tidak hanya diciptakan untuk membantu proses pengembangan perangkat lunak? Sebelum kita melangkah lebih jauh, mari kita biasakan melihat kembali pada panduan resmi Scrum berikut ini:

Scrum (n): A framework within which people can address complex adaptive problems, while productively and creatively delivering products of the highest possible value

Yap!, Scrum diciptakan sebagai sebuah kerangka kerja yang digunakan pada kondisi permasalahan yang kompleks, sedangkan proses pengembangan perangkat lunak itu sendiri, pada saat ini kebanyakan sudah berada dalam kondisi yang kompleks*. Pada versi panduan yang terbaru (November 2017) sudah terdapat beberapa pernyataan bahwa Scrum telah dan bisa digunakan di berbagai bidang:

Starting in the early 1990s, Scrum has been used extensively, worldwide, to:

-Research and identify viable markets, technologies, and product capabilities;

-Develop products and enhancements;

-Release products and enhancements, as frequently as many times per day;

-Develop and sustain Cloud (online, secure, on-demand) and other operational environments for product use; and,

-Sustain and renew products.

Scrum has been used to develop software, hardware, embedded software, networks of interacting function, autonomous vehicles, schools, government, marketing, managing the operation of organizations and almost everything we use in our daily lives, as individuals and societies.

Sebagai tambahan berikut saya lampirkan 3 dari beberapa contoh penggunaan Scrum selain di pengembangan perangkat lunak:

  1. Scrum untuk keluarga:

    image credit: http://www.publicdomainpictures.net

    Buat kamu yang sudah berkeluarga pasti tahu dong bagaimana tingginya kompleksitas koordinasi dan relasi antar anggota keluarga dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Pertama kali saya mengetahui bahwa Scrum dapat dipakai untuk keluarga adalah dari video TED yang dipresentasikan oleh Bruce Feiler.

    Berikut beberapa tautan yang bisa kamu jadikan referensi untuk menggunakan  Scrum dilingkungan keluarga: https://www.mountaingoatsoftware.com/blog/the-agile-household-how-scrum-made-us-a-better-family
    http://scrumforkids.com
    https://www.amazon.com/Secrets-Happy-Families-Improve-Mornings-ebook/dp/B0089LOHHO

     

  2. Scrum di bagian pelayanan kepolisian di Ghana
    Solving one of Ghana's biggest challenges - improving the police - with an agile framework

    image credit @AgileAfrica, taken from information-age.com 

    Angka kriminalitas yang meningkat dan visi untuk menjadi “world class” membuat  Ghana Police Services harus mencari cara untuk bisa tangkas dalam melakukan inspeksi dan beradaptasi terhadap perubahan variabel-variabel saat memberikan layanan ke masyarakat Ghana. Mereka mulai menggunakan Scrum sejak Januari 2017 dengan melakukan Sprint yang berdurasi 28 hari.
    Mereka berhasil melakukan akselerasi dalam mencapai ke 13 tujuan strategisnya dengan menentukan secara jelas dan mempunyai pemahaman bersama terhadap apa yang namanya “Definition of Done”. Selain itu mereka juga selalu berusaha melakukan perbaikan setiap saat. Menariknya, karena dengan menggunakan Scrum disetiap Sprint selalu ada hasil yang nyata, hal ini membuat tim selalu termotivasi. Kamu dapat membaca berita selengkapnya disini:
    http://www.information-age.com/solving-one-ghanas-biggest-challenges-agile-framework-123469057/

     

  3. Scrum untuk Sekolahan:

    image credit: pexels.com

    Sekolah seharusnya menjadi tempat belajar yang kreatif, menyenangkan dan dapat memberdayakan para murid untuk saling proaktif. Apalagi di zaman sekarang, informasi dan pengetahuan sudah banyak tersebar di internet dan sangat memungkinkan seorang murid punya pengetahuan lain yang lebih dibanding gurunya. Dengan begitu maka pengetahuan yang didapatkan disekolah tidak hanya bersifat satu arah, namun akan tercipta pengetahuan yang kolektif dan terus berkembang.

    Apakah kamu penasaran dan ingin mengeathui lebih lanjut berikut rujukan yang bisa kamu pakai:
    http://eduscrum.nl/en/

Menarik bukan, nah jadi buat kamu yang masih bingung kamu dapat menghadiri di acara tahunan Scrum di indonesia yaitu Scrum Day Bandung, yang diadakan oleh Yayasan Indonesia Tangkas Beradaptasi ini atau silahkan tulis komentar kamu dibawah ini.

 

Keep Calm and Scrum On! 😀

*Terus bagaimana kita dapat mengetahui permasalahan yang kita hadapi kompleks atau tidak?. Tunggu di artikel berikutnya ya 😉

Leave a Reply