Scrum Membangun Tim Power Rangers

Saya pernah membaca posting-an di LinkedIn:

Untuk memulai startup kita harus jadi Superman. Kalau mau menjalankan startup, kita butuh Power Rangers.

Kalau tidak salah begitu kalimatnya, sayangnya saya lupa siapa orang yang mengatakan seperti itu. Tapi, dari gambaran kutipan itu, saya yakin kita semua sudah cukup mengerti apa maksudnya.

Saya sendiri setuju dengan kutipan itu, membangun sebuah perusahaan — biasanya dimulai dari startup, tidak hanya butuh satu orang penggagas tapi lebih dari satu orang-orang hebat.

Seperti yang kita tahu Power Rangers, atau sekelompok hero manapun, pada akhirnya menang dengan kerjasama tim. Lebih dari satu tenaga, lebih satu pikiran/ide.

Ini sangat berhubungan dengan startup, yang biasanya dimulai antara 2–5 orang. 2–5 orang yang memiliki tenaga dan pikiran/ide berbeda ini bisa menjadi sumber daya utama startup. Di sisi lain, banyak tenaga dan banyak pikiran pun bisa memicu hancurnya startup.

 

Penyebab Utama Kegagalan Startup

Tirto.id, sebuah portal berita, dalam artikelnya yang membahas tentang kegagalan startup menyebutkan kegagalan startup karena tim yang buruk sebesar 23%. Lebih besar dari faktor tersingkir dari kompetisi 19% dan masalah harga 18%.

Tim yang buruk hanya kalah dari faktor tidak dibutuhkan pasar 42% dan kehabisan modal 29%.

Artinya, faktor tim yang buruk adalah masalah intern yang menjadi penyebab utama gagalnya startup.

Bagaimana tim yang buruk bisa mempengarui bahkan menggagalkan sebuah startup atau project?

“The first three or four people you hire will definitively set the course of your company”. Saat penggagas startup mulai berfikir untuk team scaling, secara tidak langsung mereka harus berfikir untuk mulai fokus pada sifat dan kepribadian diatas keterampilan.

“I will only hire someone to work directly for me if I would work for that person.”
— Mark Zuckerberg

Hal-hal tersebut tidak dibangun dalam satu malam. Untuk bekerja sama dalam tim tidak hanya butuh sebuah peraturan atau standard operational procedure, tapi lebih dulu adalah culture — budaya kerja. “Budaya kerja harus lebih dari sekedar kompetensi, jika memiliki budaya yang salah, Anda sudah mati.”

 

Culture is the core

Bicara mengenai culture cerita favorit saya adalah Airbnb, Don’t Fuck Up the Culture.

… by upholding our core values in everything we do. Culture is a thousand things, a thousand times. It’s living the core values when you hire; when you write an email; when you are working on a project; when you are walking in the hall. We have the power, by living the values, to build the culture. 

Cerita Airbnb juga terjadi disekeliling kita, tidak sedikit saya mendengar investor yang lebih tertarik pada timnya, dibanding produk apa yang diciptakan.

Menciptakan culture adalah proses, tapi dimulai dari satu langkah awal bersama dengan tim anda. Menciptakan orang hebat untuk menjadi tim yang hebat.

Saya percaya orang hebat tidak lahir begitu saja, ada proses. Beberapa waktu lalu dalam sebuah diskusi grup, kami membahas apakah Scrum cocok dengan generasi millennial? Diskusi cukup panjang dan kami cukup damai dengan anggapan tipe-tipe generasi tersebut hanya stereotipe.

Karena orang hebat diciptakan melalui proses. Saya juga percaya, lebih mudah menciptakan culture yang baik dan yang diharapkan bersama orang-orang yang kita anggap hebat.

Lalu bagaimana sebuah startup bisa menciptakan culture yang baik dan disaat yang bersamaan menciptakan orang-orang yang hebat?

 

Modern Management with Scrum

Konsep modern management ini dicetuskan oleh Peter Drucker dan di Indonesia coach saya Joshua Partogi sering sekali berbicara mengenai ini.

Dalam beberapa meet up juga, saya sering memulai dengan konsep modern management. Karena itu adalah pondasi utama dalam management yang sangat relevan untuk kondisi saat ini.

Modern management adalah manajemen dengan konsep people-centered management for knowledge workers.

Scrum (n): A framework within which people can address complex adaptive problem, while productively and creatively delivering products of the highest possible value.

Scrum, sebuah kerangka kerja, yang juga sejalan dengan konsep modern management, mengedepankan collective intelligence of knowledge workers. 

 

Bagaimana scrum bisa menciptakan budaya kerja dan tim yang hebat?

Scrum Pillars

Scrum dibangun berdasarkan proses empiris, yang ditunjang oleh 3 pilar: transparasi, inspeksi dan adaptasi.

Di dalam Scrum, tim yang terdiri dari latar belakang yang berbeda, tanggung jawab yang berbeda, keterampilan yang berbeda, bakat yang berbeda dan juga kepribadian yang berbeda, bekerja, belajar dan mempertajam diri bersama-sama.

…the house of scrum is an inclusive house of warm, open and collaborative relationships.

Scrum juga memiliki core values yang harus dipegang masing-masing individu, yaitu: courage, focus, commitment, respect, openness.

Scrum Values

 

Sampai sini Scrum sudah mengajarkan tentang transparasi, adaptasi, dan inspeksi. 3 hal itu yang membuat tim bisa lebih agile, mampu bersaing di abad ini.

“Agility is about doing the best possible at every possible moment.”
— Gunther Verheyen

Scrum juga mengajarkan nilai dalam kerja seperti keberanian, fokus, komitmen, menghargai, dan keterbukaan. 5 kata yang seyogianya adalah nilai atau prinsip hidup manusia sehari-hari, bukan hal yang baru.

Di Scrum, hal itu dijadikan nilai dalam bekerja sama. Keputusan yang dibuat, langkah yang diambil, aktivitas kerja harus mencerminkan core values tersebut.

 

Terciptalah budaya kerja

Entah sadar atau tidak, pratik dan cara berfikir Scrum — yang akan atau sedang dijalani, secara tidak langsung menciptakan culture. Seiring berjalan, saya yakin akan tercipta culture yang saling menghargai antar individu, fokus pada pekerjaan, berkomitmen terhadap tugas dan tanggung jawabnya, mampu terbuka terhadap kekurangan diri tapi juga berani mengungkapkan pendapat, dan etos kerja lainnya.

Tim yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan, menginspeksi diri sendiri ataupun secara kolektif untuk bisa meng-upgrade kualitas tim, dan transparan pada semua orang. Saya yakin nilai-nilai itu adalah hal yang baik dalam menciptakan culture yang baik.

Martijn van Asseldonk, mengasumsikan Scrum Team sama seperti Special Force, pasukan khusus dalam militer US, ditulisan Scrum Teams Special Forces.

Berita baiknya adalah selagi menciptakan tim yang hebat dan culture yang baik, pada saat bersamaan tim Scrum juga menciptakan produk yang berkualitas. Highest possible values adalah salah satu hasil kerja tim Scrum yang baik.

Ini bak, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Create the culture and Scrum on!

Leave a Reply